Pengingkaran Bangsa Barat di Sepotong Surga Dari Timur
Pengingkaran Bangsa Barat di Sepotong Surga Dari Timur
Bangsa Barat Di Maluku
Bangsa Portugis yang sudah menduduki Maluku lebih dulu, memicu bangsa Eropa lainnya untuk datang ke Maluku. Salah satunya bangsa Belanda yang akhirnya bangsa Belanda tiba di Maluku juga. Ekspansi Portugal bersumber pada suatu komunikasi dari unsur-unsur politik, ekonomi dan politik. Maka motivasi bangsa negeri kincir angin untuk mengarungi lautan berpangkal pada perdagangan dan keuntungan yang sebesar-besarnya yang diharapkan dari usaha perniagaan. Secara keseluruhan, orientasi hidup orang Belanda lebih terarah pada kegiatan ekonomi dari pada kegiatan keagamaan.
Pada abad ke-15 sampai 16 di tahun 1599, 1600 dan 1601 sebelum kepimimpinan Portugis Mendoza melaksanakan ekspedisi penaklukannya, kapal-kapal Belanda beserta armadanya sudah tiba di Maluku di bawah pimpinan Jacob Cornelis van Neck, Wybrant Worwyck, Jacob van Heemskerck dan Steven der Hogken. Kemudian datang pedagang-pedagang dari berbagai kongsi dagang. Untuk mengatasi berbagai kesukaran yang ada di laut, maka pada tahun 1602 dibentuk suatu Vereenigde Oost-Indische Compagnie (VOC), yaitu gabungan atau kongsi pedagang yang berlayar ke Indonesia. VOC inilah yang diberi kekuasaan penuh dan diberi Hak Oktroi oleh pemerintah Belanda untuk mengurus semua kepentingan Belanda di bawah jajahan secara tidak langsung. Dengan orang-orang Belanda dan organisasi mereka itu, rakyat Maluku akan terlibat dalam suatu proses nasional maupun internasional politik, ekonomi dan religi.
Pada tahun 1605 Admiral Steven van der Hagen bersamaan dengan pejuang-pejuang Hitu dapat menaklukan benteng Kota Laha, pusat pertahanan terakhir bangsa Portugis di Ambon. Kemudian ia dan pengganti-penggantinya diinstruksikan untuk segera menduduki seluruh kepulauan Maluku dan menguasai perdagangan rempah-rempah di sana. Pada masa ini bangsa-bangsa Eropa lainnya juga berlomba-lomba untuk menduduki kepulauan Maluku dan menguasai perdagangan rempah-rempah. Selain Portugis dan Spanyol, bangsa Inggris juga melirik kepulauan Maluku. Sejak tahun 1609 mereka sudah mendatangi kepulauan Banda dan pulau-pulau lainnya Berkenaan dengan itu pimpinan VOC merencanakan segera menduduki pulau-pulau yang terutama menjadi pelabuhan, tempat transit, dan pusat-pusat perdagangan rempah-rempah. Pelaksanaan rencana ini lah yang menjadi cikal bakal tumbuhnya perlawanan untuk melawan VOC.
Surga Dari Timur, Kepulauan Banda
Banda Tempat Singgah
Latar Belakang
Perselisihan antara berbagai pedagang Eropa untuk menguasai Kepulauan Banda dapat dikatakan mulai sejak tahun 1609. Pada waktu itu pemerintah Belanda mengirim suatu armada yang kuat. Armada tersebut dipimpin oleh Admiral Verhoeff dan Vice-admiral Wittered yang diperintahkan untuk menduduki dan menguasai semua pulau rempah-rempah.
Mereka diinstruksikan untuk berunding dengan para pejabat setempat. Kalau hal ini tidak terwujud maka mereka akan menggunakan kekerasan untuk mewujudkan perintah dari pemerintah Belanda. Di daerah yang telah diduduki secara kekerasan, atau diplomasi harus didirikan benteng kecil yang dikawal oleh tentara. Yang dimaksudkan untuk menghalau pedagang Eropa lainnya.
Verhoeff dan Wittered menginjakan kakinya di Banda pada tahun 1609. Mereka menemui para pemuka rakyat pulau itu dan mengadakan perundingan terutama dalam hal monopoli perdagangan rempah-rempah. Rakyat bersedia, karena memang mereka sudah lama tidak didatangi orang-orang Portugis.
Jadi tidak ada halangan apa-apa bagi pemberian monopoli kepada Belanda. Akan tetapi setelah Verhoeff mendesak untuk mendirikan sebuah benteng, timbul kesukaran. Sebuah benteng berarti bahwa mereka tidak dapat bergerak lagi dalam perdagangan & perniagaan. Sebagian besar kaum bumi putera Banda menolak tuntutan dari Verhoeff. Namun ada juga sebagian kecil yang menerima tuntutan Verhoeff. Hal ini merupakan suatu permulaan perselisihan di kalangan rakyat Banda sendiri. Mereka semuanya tidak sependapat dan ini kelak ternyata dalam jalannya perlawanan melawan Belanda.
Perseteruan Di Banda
Perlawanan rakyat Banda melawan VOC dibagi menjadi dua periode. Periode pertama dimenangkan oleh rakyat Banda dan pada periode kedua dimenangkan oleh Belanda. Perang ini mulai berkobar pada waktu Verhoeff disergap oleh pasukan dari rakyat Banda dalam perjalanannya menuju tempat perundingan untuk berunding pembuatan benteng.
Pasukan yang berada dibawah kepemimpinan Verhoeff mulanya nampaknya janggal karena kekuatan senjata apinya. Rakyat Banda bertempur dengan senjata yang jauh dari kata modern yaitu lembing dan panah. Tetapi senjata api yang digunakan pasukan Verhoeff tidak dapat melawan serangan bertubi-tubi dari pihak rakyat Banda. Dalam pertempuran ini Verhoeff gugur dan pasukannya mengundurkan diri dan kembali ke kapal mereka. Dan kepimimpinan pasukan Belanda diambil oleh Wittered.
Wittered mencoba untuk menyerang orang-orang Banda untuk kesekian kalinya tetapi tetap mengalami kegagalan. Dengan terpaksa ia mundur dengan sisa pasukan dan armadanya ke Ambon. Untuk sementara waktu rakyat Banda bersorak-sorai kemenangan, Namun pada waktu itu VOC sedang berusaha sekuat tenaga dan bertekad melaksanakan monopoli perdagangan rempah-rempah di Maluku.
Gubernur Jenderal VOC yang membantu dan mensponsori cara kekerasan untuk mencapai tujuan tersebut adalah Jan Pieterszoon Coen. Ia menjadi Gubernur Jenderal pada tahun 1619, Coen yakin bahwa cita-citanya akan tercapai mengingat Portugis pada waktu itu sudah melemah. Namun ia masih berhati-hati dengan bangsa Inggris yang pada waktu itu juga sedang berhubungan dagang dengan rakyat Banda dan masih terjalin suatu persahabatan antara Belanda dan Inggris.
Pada tahun 1612, Coen mendapat kesempatan untuk melaksanakan cita- citanya yaitu memaksa penduduk Maluku khususnya rakyat Banda untuk mengakui dan menerima hak monopoli VOC. Dengan suatu armada yang besar ia menuju Ambon. Setelah mengumpulkan sejumlah tentara lagi ia melanjutkan perjalanan- nya dengan armadanya ke Banda. Peperangan di Banda pecah kembali dan berlangsung dengan hebat. Rakyat Banda yang dipimpin oleh para kaum borjuis di Banda yaitu para Kepala Pemerintahan di kampung-kampung melalukan perlawanan yang sangat kuat, namun pada akhirnya rakyat Banda dapat ditaklukan oleh Coen.
Hal disebabkan karena mereka tidak mempunyai suatu organisasi dan jaringan yang terpusat dan tidak ada suatu kerajaan yang mampu menghimpun semua tenaga penduduk kepulauan itu. Antara desa-desa terdapat perbedaan-perbedaan yang membuat mereka terpecah belah. Satu pihak memihak VOC sekalipun tidak terlalu besar, kadang-kadang mereka bersatu kembali dengan pihak yang menentang VOC. Namun demikian sudah tidak terdapat satu keutuhan di mana seluruh pihak melawan VOC secara serentak. Dan suatu kelemahan lain ialah bahwa tidak adanya suatu hubungan yang erat dengan sekutu-sekutunya.
Bangsa Inggris yang sebelumnya berjanji akan membantu dengan dengan mengsuplai senjata ternyata tidak memenuhinya. Sebab mereka segan memikul resiko bila berhadapan dengan Coen. Perang Banda ini berlangsung dengan sangat kejam, banyak penduduk yang dibunuh.
Coen sudah mempunyai rencana yaitu tidak akan membiarkan lagi pulau ini dikuasai oleh penduduk aslinnya. Pembunuhan-pembunuhan terus dilaksanakan tentaranya. Malah semua pemuka rakyat Banda yang telah menyerahkan diri, tetap dibunuhnya. Sebagian kecil tawanan diangkut ke Batavia, sisa penduduk Banda dapat melarikan diri terutama mereka yang beragama Islam. Mereka menyingkir dengan perahu-perahu kerajaan Hatuhaha di pulau Haruku. Sebagian lagi tersebar ke kepulauan Gorong dan pantai Seram Timur, bahkan ada yang terus menuju kepulauan Kei dan menetap di pulau Kei Besar. Dan mereka juga memperoleh bantuan Sultan Hasanuddin dari Makassar, sebagian penduduk Banda juga ditampung di Makassar.
Buah Dari Peperangan
Pasca peperangan dan perseteruan itu, VOC dapat menguasai Kepulauan Banda kemudian dinyatakan sebagai milik VOC. Tanah-tanah pertanian rakyat yang kaya akan pala itu tidak dibiarkan oleh VOC begitu saja. Bidang tanah-tanah tersebut ditawarkan kepada siapa saja yang mau mengerjakan terutama kepada bekas prajurit dan pegawai VOC. Akhirnya tanah-tanah itu menjadi hak milik orang-orang Belanda dan orang-orang Eropa lainnya yang disebut sebagai perken. Perken itu dikerjakan dengan menggunakan tenaga para budak yang didatangkan dari berbagai tempat sebagai para tawanan.
Selain itu bangsa Cina yang terdampar di Banda juga dijadikan menjadi pekerja perken. Sejak tahun 1623, Banda menjadi suatu masyarakat yang terisolasi dari dunia luar. Dalam masa VOC, daerah ini diperintah oleh seorang pejabat yang disebut Gouverneur. Perlawanan penduduk Banda pada tahun 1621-1623 itu merupakan perlawanan pertama yang dilancarkan terhadap imperialisme Belanda di daerah Maluku yang kemudian meluas menjadi peperangan hebat lagi di daerah Maluku Tengah yaitu di pulau Ambon, Seram dan Lease.
Belanda menganggap peperangan ini merupakan suatu batu ujian terhadap metode kekerasan yang ternyata sangat efektif dalam penegakan dan perluasan kekuasaan mereka di daerah kepulauan rempah-rempah. Dan itu sungguh suatu pelanggaran terhadap hak asasi manusia dan perikemanusiaan.
Referensi: Pustaka Kebudayaan Kemendikbud/DEPARTEMEN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN DIREKTORAT SEJARAH DAN NILAI TRADISIONAL PROYEK INVENTARISASI DAN DOKUMENTASI SEJARAH NASIONAL
1983/1984
Profil Penulis:







isi yg di jelaskan lengkap tanpilannya sudah rapih
BalasHapusisinya lengkap dan rapih
BalasHapustampilannya menarik
isi lengkap,rapih
BalasHapusSudah bagus, lengkap, penjelasan juga rinci
BalasHapusIsinya rapih dan menarik penjelasan nya juga sudah rinci
BalasHapus