Seluk Beluk Perang Pattimura
Historical Times Indonesia.blogspot.com - Terjadinya perlawanan rakyat maluku terhadap penjajahan yang dilakukan oleh VOC atau serikat dagang milik belanda, ditandai dangan adanya perang Pattimura (1817).
Sumber gambar : https://www.tribun-maluku.com/sejarah-pattimura-benar-lawan-salah/05/25/
Hal ini terjadi setelah Inggris menandatangani perjanjian traktat London, dengan menyerahkan wilayah kekuasaan Indonesia kepada Belanda.
Pada tahun 1814 , masa itu VOC datang ke Indonesia untuk Menguasai Maluku yang saat itu merupakan surganya rempah-rempah bernilai fantastis di Negara bagian Eropa.
Sebelumnya, Maluku memang sudah menjadi wilayah yang diperebutkan oleh bangsa-bangsa Eropa, seperti Inggris Belanda, Spanyol dan Portugis. Bangsa Eropa mencoba memperebutkan kekuasaan dagang di wilayah tersebut karena tergiur dengan kekayaan rempah-rempah seperti cengkeh dan pala yang sangat melimpah ruah di sana.
Kedatangan VOC sama sekali tidak mendatangkan keuntungan bagi rakyat maluku, namun justru malah membawa kesengsaraan yang memicu perlawanan rakyat Maluku terhadap Belanda.
Di bawah komando Thomas Matulessy atau yang biasanya dikenal dengan nama Kapitan Pattimura, perlawanan rakyat Maluku kepada Belanda akhirnya dikenal oleh masyarakat dengan nama perang Pattimura.
Penyebab perang Pattimura
Dalam buku Sejarah Nasional : Ketika Nusantara Berbicara (2017) yang ditulis Joko Darmawan, disebutkan beberapa alasan munculnya perlawanan masyarakat Maluku terhadap Belanda pada tahun 1817.
Berikut adalah beberapa penyebab pecahnya Perang Pattimura pada tahun 1817 :
1. Semakin diperketatnya kebijakan monopoli perdagangan, Pelayaran Hongi, dan kerja paksa, yang membuat rakyat Maluku semakin sengsara.
2. Pemerintah kolonial berencana menghapus sekolah-sekolah desa dan memberhentikan guru untuk menghemat anggaran.
3. Rakyat dipaksa menyediakan garam, ikan asin, dan kopi bagi kapal-kapal perang Belanda yang berlabuh di Ambon.
4. Belanda menurunkan harga hasil bumi, sementara pembayarannya cenderung ditunda-tunda.
5. Adanya paksaan pada para pemuda untuk menjadi serdadu Belanda di luar Maluku.
6. Timbulnya permasalahan dalam peredaran uang kertas yang menggantikan uang logam, sehingga semakin mempersulit kehidupan rakyat.
7. Adanya sikap arogan dan sewenang-wenang dari Residen Saparua, Van den Berg yang membawa kesengsaraan bagi rakyat Maluku dengan memberlakukan kembali kerja paksa yang sebelumnya telah dihapus oleh pemerintah Inggris.
Kronologi Perang Pattimura
Atas berbagai tindakan VOC yang membuat rakyat sengsara itu, rakyat Maluku mulai membuat beberapa pertemuan untuk membahas strategi perlawanan terhadap Belanda.
Dalam pertemuan 14 Mei 1817, rakyat Maluku mengangkat Thomas Matulessy, seorang bekas tentara Korps Ambon sebagai pemimpin pergerakan perlawanan terhadap penjajahan Belanda dengan sebutan Kapitan Pattimura.
Thomas Matulessy kemudian memilih beberapa orang untuk membantunya yaitu Anthoni Rhebok, Philips Latimahina, Lucas Selano, Arong Lisapafy, Melchior Kesaulya dan Sarassa Sanaki, Christina Martha Tiahahu, dan Paulus Tiahahu.
Pada 15 Mei 1817, Kapiten Pattimura bersama Philips Latumahina, Lucas Selano dan pasukannya memulai operasi penyerangan ke pos-pos dan benteng Belanda di Saparua.
Dalam operasi yang dikenal dengan Perang Saparua itu, rakyat Maluku berhasil merebut benteng Duurstede dan menewaskan kepala residen Saparua, yaitu Van den Berg beserta para pasukannya.
Pada tanggal 20 Mei 1817, diadakan rapat besar di Haria untuk mengadakan pernyataan kebulatan tekad melanjutkan perjuangan melawan Belanda yang dikenal dengan sebutan Proklamasi Portho Hari.
Di waktu yang bersamaan, Belanda juga melancarkan serangan balik dengan mengerahkan 300 pasukan dari Ambon yang dipimpin oleh Mayor Beetjes untuk merebut kembali benteng Duurstede yang kemudian disebut dengan ekspedisi Beetjes yang dapat digagalkan oleh Kapiten Pattimura dan pasukannya.
Kemenangan dalam pertempuran lain juga didapatkan oleh Pattimura di sekitar pulau Seram, Hatawano, Hitu, Haruku, Waisisil dan Larike.
Pada tanggal 4 Juli 1817 sebuah armada kuat Belanda yang dipimpin Overste de Groot berangkat menuju Saparua dengan tugas menjalankan vandalisme.
Wilayah Hatawano dibumihanguskan dan Belanda melakukan berbagai siasat untuk membalas perlawanan yang dilakukan oleh rakyat Maluku. Termasuk berunding, serang mendadak, aksi vandalisme dan adu domba yang dijalankan silih berganti untuk melemahkan perlawanan yang dilakukan oleh rakyat Maluku.
Belanda juga melancarkan politik pengkhianatan terhadap Kapitan Pattimura dan para anggota pengikutnya.
Pada tanggal 11 November 1817 dengan didampingi beberapa orang pengkhianat, Letnan Pietersen berhasil menyergap Kapiten Pattimura dan Philips Latumahina saat berada di Siri Sori. Dilansir dari buku Kapitan Pattimura (1985) karya I.O Nanulaitta, disebutkan bahwa Kapitan Pattimura dikhianati oleh raja Booi dari Saparua yang telah membocorkan informasi mengenai strategi perang sehingga akhirnya Belanda dengan mudah mampu merebut kembali Saparua.
Lalu pada tanggal 16 Desember 1817, para tokoh pejuang yang ditangkap oleh Belanda yaitu Kapitan Pattimura, Anthony Rhebok, Philip Latumahina, dan Said Parintah pun harus berakhir di tiang pancang yang berada di depan Benteng Nieuw Victoria, Kota Ambon.
Hal inilah yang menandai berakhirnya perang Pattimura, sekaligus sebagai pengabdian terakhir Kapitan Pattimura dan para pasukan seperjuangannya bagi bangsa Indonesia.
Sumber referensi : ditsmp.kemdikbud.go.id, kompas.com, gramedia.com
Identitas penulis :
M. Rizky Maulana
SMAN 5 Cirebon




isi jelas ,tulisan kurang rapih
BalasHapuspenjelasannya sudah bagus namun untuk paragraf nya dirapihkan lagi
BalasHapuspenjelasannya lengkap tapi untuk tampilan paragrafnya blm rapih.
BalasHapusIsi sudah rinci, bagus jg, cuma kurang rapih
BalasHapusInformasi sudah bagus, tapi hanya paragraf kurang rapi
BalasHapusPenjelasan singkat mudah dipahami tapi paragraf nya kurang rapih
BalasHapus